Puisi
berasal dari bahasa Latin poieu=poio yang berarti membangun,
menimbulkan, menyebabkan atau menyair. Karena itu, puisi dapat diartikan
sebagai curahan perasaan yang dapat menimbulkan keharuan; dapat membangkitkan
semangat atau membangun sikap seseorang; dan yang merupakan gubahan atau
ciptaan seseorang pula.[1]
Untuk menjelaskan unsur-unsur yang membangun
puisi, masih berlaku teori dikotomi yang memandang karya sastra dari dua sudut
pandangan, yaitu; sudut bentuk dan isi.[2]
Dalam hal memahami isi puisi, Prof. Dr. Mursal
Esten dalam bukunya Memahami Puisi, menyebutkan sepuluh petunjuk untuk
memahami puisi. Pertama, perhatikan judulnya. Kedua, lihat
kata-kata yang dominan. Ketiga, selami makna konotatif. Keempat, makna
yang lebih benar adalah makna yang sesuai dengan struktur bahasa. Kelima, parafrasekan
puisi tersebut. Keenam, usut siapa yang dimaksud kata ganti yang
terdapat dalam puisi tersebut. Ketujuh, temukan pertalian antar semua
unsur dalam puisi. Kedelapan, mencari makna yang tersembunyi. Kesembilan,
perhatikan coraknya. Kesepuluh, harus dapat menunjukan bait mana,
atau larik mana yang menjadi sumber tafsiran tersebut.[3]
Merujuk pada konsep yang tertulis di atas, maka
analisis puisi “Memuji Dikau” akan dilakukan dengan pendekatan obyektif.