Peneriman
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Jika kau kembali, kuterima kau kembali
Tapi untukku sendiri
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Maret, 1943
Analisis Puisi “Penerimaan”
Meski menyebut dirinya “binatang jalang”, Chairil Anwar tampaknya tak berdaya dan tunduk ketika dirinya terlibat dalam sentimen asmara. Kesan ini dapat dirasakan secara kuat ketika kita membaca sajak Penerimaan yang diciptakannya pada Maret 1943. Sebagai penyair yang pola hidupnya “berantakan” dan penuh kebebasan, Chairil menunjukkan kelembutan yang sentimental melalui puisi ini. Bahkan ia rela takluk atas cinta yang dirasakannya.

